Sunday, January 18, 2009
Apakah Natal adalah sebuah moment atau momentum?
Oleh: Novizar Tirta
Lho? Memangnya moment dan momentum itu beda yach?
Jelas beda. Moment (karena ini sudah jadi bahasa Indonesia, boleh juga ditulis “momen”) memiliki beberapa pengertian. Dalam bahasa Inggris, “moment” dapat didefinisikan sebagai “very brief period of time” atau “exact point in time.” Sedangkan dalam bahasa Indonesia, momen dimengerti sebagai “waktu yang pendek” atau “saat.” Dalam hal ini, kita melihat bahwa baik bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia memiliki pengertian yang sama tentang istilah moment (momen) ini, yaitu berkenaan dengan periode waktu yang singkat.
Bagaimana dengan momentum? Dalam bahasa Inggris, momentum dimengerti sebagai “force that increases the rate of development of a process.” Sedangkan dalam bahasa Indonesia, momentum adalah “sifat benda bergerak” atau boleh juga dipahami sebagai “gerakan.” Jadi, kalau boleh saya simpulkan, karakteristik dari momentum adalah terdapatnya suatu daya atau upaya, lalu adanya gerakan (sebagai kontras dari sesuatu yang bersifat statis atau monoton) dan tentu saja harus ada pula arah dan tujuan. Sebab bukankah setiap benda yang bergerak pasti ada arah gerakannya? Termasuk dalam karakteristik suatu momentum yang saya lihat adalah adanya pembangunan (development) atau boleh juga ditafsirkan sebagai progress (kemajuan) serta adanya suatu proses.
Dari penjabaran terhadap arti kata moment dan momentum, kita dapat melihat bahwa kedua kata itu memang jelas memiliki pengertian yang jauh berbeda, sekalipun cara melafalkannya terdengar hampir sama.
Lalu, apa arti penting semuanya itu?
Sering kali kita berpikir atau melihat Natal hanya dari sudut pandang moment atau sudut pandang periode waktu yang singkat. Biasanya kita mengasosiasikan Natal dengan bulan Desember sampai kira-kira dua minggu pertama di bulan Januari. Setelah semuanya berlalu, maka kita melupakan Natal dan kembali pada kesibukan semula, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di waktu Natal yang baru saja lewat itu (Kecuali tagihan kartu kredit yang membengkak sehubungan dengan aktivitas belanja liburan Natal kita tentunya, atau barangkali?)
Saya akui, saya juga sering terjebak dalam cara pandang seperti ini. Tetapi saya ingin mengusulkan suatu cara pandang lain, yaitu melihat Natal bukan sekedar sebagai moment, yang dapat datang, berlangsung dan akhirnya berlalu, melainkan sebagai suatu momentum; artinya suatu gerakan. Dan karena ini adalah suatu gerakan, maka ia tidak perlu dibatasi oleh waktu. Kita dapat membicarakan dan memikirkannya at any time. Dan karena ia adalah suatu gerakan, maka dibutuhkan upaya atau usaha, dinamika, arah tujuan, pembangunan/kemajuan (atau progress) serta adanya suatu proses.
Mengapa saya mengusulkan demikian?
Karena pertama-tama, tentu saja melakukan gerakan semacam ini pasti ada faedahnya, khususnya di dalam hubungan dengan pengenalan kita terhadap Kristus Yesus. Kedua, pada dasarnya ada begitu banyak hal yang dapat kita pelajari dari Natal, lebih banyak dari waktu yang tersedia selama bulan Desember dan Januari. Dan ketiga, kita bisa memberi waktu kepada diri kita untuk mencerna pesan Natal di dalam pikiran kita dan mulai mencoba mengaplikasikan ajaran-ajaran di dalamnya pada kehidupan kita sehari-hari. Anda tentu setuju jika saya katakan bahwa proses tersebut membutuhkan waktu bukan?
Alasan keempat adalah bahwa membicarakan Natal dapat merupakan suatu persiapan yang baik pula untuk menyambut Paskah yang umumnya hanya berselang sekitar empat bulan setelah Natal.
Tidak sedikit orang yang mengganggap hari Natal lebih penting daripada Paskah, namun banyak pula yang melihat bahwa justru Paskah-lah yang lebih penting daripada Natal. Bagi saya, ide bahwa kedua peristiwa itu dapat dipisahkan-pisahkan saja sudah merupakan gagasan yang tidak tepat. Natal dan Paskah harus dilihat sebagai satu kesatuan, tidak boleh dipisah-pisahkan. Karena arti penting dari peristiwa yang satu amat bergantung pada peristiwa yang lain.
Dasar dari argumentasi saya adalah demikian: Natal tidak akan mencapai maksud dan tujuan Allah bagi umat manusia secara keseluruhan, jika Yesus yang lahir di Betlehem itu pada akhirnya tidak mati di kayu salib dan bangkit pada hari ketiga, karena tujuan dari Natal adalah “menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” (Matius 1:21). Tujuan mana tidak mungkin tercapai tanpa adanya pencurahan darah Yesus yang dilanjutkan dengan peristiwa kebangkitan. Di sisi lain, kematian Yesus di kayu salib hanya berhenti sebagai satu memori tragis seorang pemuda saleh yang rela berkorban, jika Yesus bukan sungguh-sungguh Allah yang menjadi Manusia. Kualitas Yesus sebagai Pribadi Allah yang menjadi Manusia adalah sangat signifikan bagi tugas yang kelak diemban-Nya di atas kayu salib; kualitas mana diperlihatkan-Nya melalui peristiwa Natal.
Jadi, jelas sekali bahwa kedua peristiwa ini secara substantial, tidak dapat dipisahkan sama sekali, sehingga kita (sepatutnya) tidak dapat memilih mana yang lebih penting dan mana yang kurang penting. Bahwa pada kenyataannya kita sebagai manusia seringkali merayakan Natal secara lebih meriah daripada Paskah, hal itu terletak pada problem kebudayaan kita sendiri, bukan serta merta menunjukkan adanya suatu comparative atau superlative events.
Tujuan dari momentum Natal ini jelas, yaitu menjawab pertanyaan “apakah Natal tahun ini membuatku semakin mengenal Kristus?” Sebab jika Natal tahun ini ataupun tahun-tahun sebelumnya berlalu begitu saja (tidak jauh-jauh dari liburan dan yaah … itu tadi, tagihan kartu kredit yang membengkak) maka saya pikir kita telah kehilangan arah serta signifikansi dari Natal. Sebenarnya, ada jauh lebih banyak hal yang bernilai dari Natal daripada yang kita pikir telah kita pahami. Ada jauh lebih banyak kisah yang dapat kita gali daripada kisah-kisah yang biasanya muncul dalam drama Natal di gereja kita.
Bagaimana kalau kita mencoba gerakan sederhana ini dengan cara mulai menggali kembali catatan-catatan peristiwa yang berkenaan dengan Natal; meskipun perayaannya sendiri sudah agak lama berlalu? Apalagi jika mengingat fakta bahwa kita sekarang sedang bergerak mendekati Paskah? Saya yakin anda tidak keberatan. Tuhan memberkati.
Natal, ironi dan introspeksi
Sebuah lukisan keemasan
Tertoreh lembut di suatu pojok negri
Tergeletak dalam ketidakberdayaan
Menyimpan makna nan sulit dipahami
O .. indahnya lukisan ini
Sayang ia tak terperhatikan
Kepongahan mendorongnya ke tepi
Dibiarkan terbaring sendirian
Biarpun fajar baru direkahkan
Dan warna emasnya memancar tinggi
Namun dalam jerat bernama keangkuhan
Berapa banyak yang masih peduli?
Lukisan keemasan terus kuamati
Sampai sosokku terpantul kelihatan
Di tepian sebuah ironi
Yang berulang menyedihkan
Kuharap Engkau tidak bosan
Melihat nista yang itu-itu lagi
Sungguh heran kalau aku bisa punya harapan
Akan sebuah hidup mulia nan abadi
Apakah dayaku saat ini?
Tergantung lemah pada belas kasih Tuhan
Entah ke kanan ataukah ke kiri
Tertatih-tatih mengikuti-Mu aku berjalan
Oh .. Natal yang tiba bersama embun pagi ini
Sekalipun tak sepenuhnya ku pahami
Tolong lukiskan pada jiwa letihku sekali lagi
Sebuah kenangan indah dari peristiwa di suatu hari
Ketika Allah buktikan bahwa Dia memang peduli
(izar)
***
Apa yang saya coba sampaikan melalui puisi ini:
Natal adalah sebuah kisah abadi yang terus diceritakan dari masa ke masa. Ia bukan cerita biasa, tetapi kisah nyata tentang pertemuan intim antara Yang Ilahi dengan manusia. Ia adalah kisah tentang kemuliaan tak terhingga di tengah dunia biasa-biasa. Saya memakai warna emas untuk melukiskan kemuliaan itu, warna yang umum dipakai dalam kelas Pendalaman Alkitab ketika menceritakan tentang hidup kekal bersama Allah.
Natal menyimpan begitu banyak ironi. Allah Raja semesta alam menjadi bayi yang lemah. Allah yang Mahakaya lahir di kandang nan hina. Allah yang begitu peduli, lahir di tengah masyarakat yang tidak peduli. Allah yang Mahakuasa namun membiarkan diri-Nya digendong dan digantikan popok-Nya oleh dua muda mudi pedesaan. Dan masih banyak lagi ironi lainnya. Tidak peduli berapa banyak yang Allah telah lakukan, manusia tetap kurang memperhatikan. Tidak peduli berapa banyak pengorbanan yang Allah berikan, manusia memandangnya sebagai hal yang biasa saja. Penyakit klasik bernama kesombongan telah dibuktikan oleh sejarah sebagai penyakit paling mematikan. Karena jenis penyakit semacam ini telah menghalangi orang untuk datang kepada-Nya dan memohon dengan rendah hati agar Dia menjadi Juruselamat bagi mereka. O ya, banyak juga yang datang kepada Tuhan, paling tidak kelihatannya begitu. Namun yang mereka inginkan hanyalah hadiah, hanya berkat atau hanya mukjizat, mereka tidak betul-betul menginginkan Dia sebagai Pribadi. Mereka curiga jika hubungan ini semakin berlanjut maka Dia akan menuntut terlalu banyak. Segala tetek-bengek hubungan pribadi yang menyusahkan, untuk apa semua itu?? O ya mereka mencintai Dia, tetapi itu jika Dia melakukan apa yang mereka minta. Jika Dia bertindak dan berkata-kata secara membingungkan dan sulit dimengerti, siapa yang mau peduli?
Baiklah, memang mudah mengkritik dunia ini, saya akui. Paling gampang memang melihat atau mencari kekurangan orang lain. Tetapi bagaimana dengan diri sendiri? Dalam perenungan pribadi menjelang Natal, saya menemukan diri saya pribadi dapat dengan mudahnya memainkan peran para pemilik penginapan “Tidak ada tempat untuk bayi itu.” Atau pergumulan Yusuf dan Maria “Apakah aku sudah melakukan semuanya dengan benar?” Atau barangkali peran para penghuni Betlehem di malam itu “Ayo cepet bobo, jangan pikir macam-macam kita masih banyak urusan besok” Atau para gembala di tengah segala rutinitas mereka yang biasa-biasa saja, seakan tanpa makna. Singkatnya, tidak seorangpun pada masa itu merasa benar-benar siap menyambut kedatangan Yesus, termasuk .. ehm (jangan bilang siapa-siapa ya) saya sendiri di zaman ini.
Gampang sekali untuk masuk dan larut dalam perayaan Natal, apalagi kalau acaranya meriah. Yang susah adalah bagaimana membuat pesan utama Natal itu masuk dan larut dalam diri saya. Apakah Natal kali ini membuat diriku berbeda dengan Natal yang lalu? Kalau iya, apakah lebih baik atau lebih buruk? Terus terang, saya sering mendapati diri saya jatuh bangun dalam upaya mengikut Yesus (siapa bilang jadi orang Kristen itu gampang?). Tidak jarang saya memergoki diri sendiri sedang kebingungan tentang apa yang mesti dilakukan, ketika sesuatu terjadi. Inikah yang Tuhan mau? Atau yang itu? Dan tahu-tahu saya sudah kedapatan berbuat salah. Semua kata-kata itu, yang harusnya tidak terucap tapi malah dikumandangkan. Semua perbuatan itu yang harusnya tidak dilakukan, tapi malah dikerjakan. Yang mestinya dikatakan malah tidak disampaikan, yang mestinya dikerjakan malah tidak pernah tuntas terselesaikan.
Akhirnya, mau tidak mau harus disadari bahwa kita memang tidak bisa memperlakukan Natal sebagai rutinitas, sebab rutinitas adalah pembunuh makna yang paling jempolan. Artinya, ketika kita memandang Natal hanya sebagai rutinitas akhir tahun, maka kita kehilangan maknanya yang dalam. Dan ironi dua ribu tahun lalu bisa berulang pada diri kita. Kita akhirnya akan memandang Natal hanya sebagai tradisi, bukan transformasi. Hanya repetisi, tapi bukan inkarnasi.
Sementara gereja tertentu tidak setuju merayakan Natal, karena 25 Desember bukanlah persis hari dimana Yesus dilahirkan, saya justru bersyukur karena kita bisa merayakannya. Sebab paling tidak Natal adalah sebuah moment, dimana kita boleh introspeksi dan evaluasi diri. Sebuah milestone dimana kita boleh melihat sudah sejauh mana perjalanan rohani kita sekarang ini. Sebuah kesempatan untuk mengenang apa yang mungkin terlupa karena tenggelam dalam kesibukan. Sebuah refleksi, adakah Natal punya sentuhan pribadi bagiku? Seperti pesan klasik yang berbunyi: “Sekalipun Yesus seribu kali lahir ke dunia ini tetapi tidak ada artinya jika Ia tidak lahir di hati anda.” Saya tidak tahu siapa yang pertama buat kalimat itu, tapi saya pikir itu ada benarnya.
Baru saja Natal datang kembali menjumpai kita, persis seperti satu tahun kemarin. Dan kita tidak boleh bosan-bosan mendengar dan merenungkan peristiwa itu, sekalipun (jujur saja) kadang-kadang perasaan itu muncul. Sebab melalui Natal Allah berulang kali berbicara pada kita demikian … (yang juga saya coba ungkapkan dalam puisi singkat) :
“You are My precious child.
Shine on you, I send My love light
Please do not have a dread
‘cause you can call me Dad
Whether you feel sad or in laughter
To the very end of the age, I leave you never”
Biarlah pada kesempatan Natal yang masih hangat ini, pesan tersebut boleh meresap ke dalam diri dan membawa kita pada suatu perubahan, baik bagi diri pribadi maupun bagi orang-orang di sekitar kita. Tuhan memberkati.
Friday, January 2, 2009
Inkarnasi: istilah asing yang (terasa) tidak asing lagi di telinga kita
Istilah inkarnasi menjadi populer sekali di dalam khotbah-khotbah Natal, artikel-artikel, maupun pembicaraan sehari-hari di antara orang-orang Kristen. Khususnya pada saat menjelang hari Natal. Anehnya, walaupun kita sering mendengar kata “inkarnasi” istilah tersebut ternyata tidak terdapat di dalam Alkitab bahasa Indonesia kita. Lho? Lantas, darimana istilah itu muncul? Dan yang lebih penting lagi, apa sih yang mesti kita pikirkan atau pahami ketika mendengar istilah itu?
Inkarnasi berasal dari bahasa Inggris incarnation. Sementara bahasa Inggris sendiri pun mencontek istilah itu dari bahasa Latin in carne yang merupakan terjemahan dari bahasa Yunani evn sarki, (en sarki). Dan sebagaimana kita (mungkin) sudah tahu, bahasa Yunani inilah bahasa yang dipakai untuk menulis kitab-kitab dalam Perjanjian Baru. Jadi, tidak perlu repot-repot untuk mencari istilah itu di Alkitab bahasa Indonesia, karena pasti tidak akan ketemu. Dan seperti kita lihat di sini, istilah itu sebenarnya adalah istilah asing. Dari bahasa Yunani, diserap oleh bahasa Latin, lalu oleh bahasa Inggris dan akhirnya baru giliran kita.
Jika merujuk pada bahasa aslinya, ada cukup banyak ayat yang menyebutkan istilah ini, satu di antaranya adalah Yohanes 1:14, bunyinya: “Firman itu telah menjadi manusia.” Dalam Alkitab bahasa Inggris versi New International Version (NIV), ayat itu berbunyi: “The Word became flesh.”
“Flesh” dalam bahasa Inggris berarti daging, dan bahasa Inggris tidak membedakan antara daging manusia dan daging binatang. Selain itu, flesh juga mengandung pengertian atau konotasi tubuh, sebagai lawan arti dari roh (spirit). Dan “flesh” juga dapat menyimbolkan sesuatu yang berada di luar (bersifat eksternal), sebagai kontras dari sesuatu yang berada di dalam (bersifat internal)
“Flesh” dalam bahasa Yunani adalah sa.rx (sarx). Dan Yohanes 1:14 dalam bahasa Yunani adalah Kai. o` lo,goj sa.rx. Lalu seperti yang saya uraikan di atas, sarx ini kemudian menjadi evn sarki (yang artinya “menjadi manusia”) dan kemudian menjadi in carne, lalu incarnation dan akhirnya inkarnasi. Baiklah, sekarang kita sudah tahu asal usul kata ini tetapi, apa arti semuanya ini?
Di dalam pengertian bahasa Yunaninya, sarx mengandung pengertian yang lebih luas dan lengkap. Istilah sarx menunjuk kepada manusia secara utuh atau secara keseluruhan, terdiri dari tubuh dan roh. Oleh karena itu, saya pikir bahasa Indonesia lebih tepat dalam menerjemahkan ayat itu, yaitu “menjadi manusia,” bukan sekedar “menjadi daging.” Sebab seorang manusia bukanlah sekedar seonggok daging. Manusia memang memiliki daging, tetapi manusia yang utuh bukanlah sekedar daging. Manusia yang utuh terdiri dari daging dan roh.
Melalui inkarnasi, keberadaan Yesus yang semula bersifat Roh (yaitu Firman atau the Word) masuk ke dalam suatu pengalaman yang unik yaitu sungguh-sungguh menjadi Manusia, sebagaimana semua makhluk lain yang disebut “manusia.”
Dalam bahasa Yunani, istilah sarx tidak dikonotasikan sebagai sesuatu yang berdosa. Istilah sarx, pada dirinya sendiri (secara inheren) bukanlah dosa, tetapi di dalam sarx ada kemungkinan atau kemampuan untuk berbuat dosa.
Jika ditanya, “Manakah yang lebih tinggi nilainya, seekor sapi ataukah seekor semut?” Tentu kita dengan mudah menjawab bahwa sapi memiliki nilai yang lebih tinggi dari semut. Biasanya semakin besar hewannya, semakin tinggi pula nilainya. Namun tentu saja hal itu tidak mutlak demikian, perlu pula dipertimbangkan faktor kelangkaan dari hewan tersebut. Seekor burung kecil bersuara emas dapat saja lebih mahal harganya daripada seekor kerbau yang amat besar dan berat. Seekor ikan kecil di akuarium bisa lebih berharga dari seekor kucing liar yang dapat kita temui dengan mudah di jalan-jalan.
Membandingkan antara hewan yang satu dengan yang lain sama saja dengan memberi nilai kepada hewan-hewan tersebut. Ada hewan yang nilainya tinggi, ada pula yang nilainya rendah tergantung kegunaan, kelangkaan dan lain sebagainya, tergantung pula dari kriteria apa yang kita pakai untuk menilai hewan-hewan tersebut.
Akan tetapi dapatkah kita menilai seorang manusia dengan cara seperti itu? Apakah manusia yang lebih berat tubuhnya pasti lebih bernilai daripada seorang yang amat kurus? Apakah mereka yang lahir dengan tubuh tinggi, lebih mulia daripada mereka yang bertubuh pendek? Dapatkah kita mengatakan intelegensia seseorang menentukan nilai orang tersebut? Atau bagaimana dengan status sosialnya, atau pekerjaannya, atau kekayaannya? Dengan apakah kita mengukur nilai seorang manusia? Atau bahkan pertanyaannya adalah, dapatkah kita mengukur nilai seorang manusia?
Dari Alkitab kita belajar bahwa manusia adalah makluk yang paling mulia dari segala ciptaan Allah di muka bumi ini. Manusia sudah pasti memiliki nilai kehidupan yang lebih besar daripada hewan-hewan atau tumbuhan. Dan nilai serta kemuliaan itu tidak berbeda antara manusia yang satu dengan yang lain. Oleh karena itu, kita (sepatutnya) tidak memiliki kategori untuk nilai seorang manusia. Kita adalah manusia, titik. Dan sebagai manusia kita memiliki nilai yang sama di hadapan Allah.
Seringkali kita sulit menghargai seorang manusia sebagaimana yang Allah maksudkan. Budaya hidup kita sehari-hari telah mengajar kita bahwa tidak semua manusia memiliki nilai yang sama.
Demi alasan-alasan sepele, seorang manusia bisa melenyapkan nyawa sesamanya. Kompetisi sehari-hari telah membentuk cara berpikir kita bahwa para pemenang adalah orang-orang yang memang memiliki nilai yang lebih baik dari orang yang lain. Iklan-iklan komersial telah membentuk cara pandang kita tentang bentuk wajah seperti apakah yang disebut cantik, rambut bagaimanakah yang paling menarik, postur tubuh apakah yang paling sempurna, makanan apakah yang harus kita makan agar kita bisa berbeda dengan orang lain, kendaraan apakah yang harus kita kendarai agar nilai hidup kita bisa meningkat dan masih banyak lagi.
Melalui inkarnasi, kita ditegur, diajarkan atau barangkali diingatkan kembali bahwa manusia, seperti anda dan saya adalah makluk yang berharga di mata Allah. Orang lain mungkin tidak bisa menghargai anda. Diri anda sendiripun mungkin sulit untuk menerima kenyataan bahwa anda adalah seorang yang berharga. Tetapi satu hal dari inkarnasi yang dapat kita renungkan adalah Allah memandang anda berharga sehingga Ia bersedia untuk menjadi sama seperti anda. Allah mau sama seperti kita agar di dalam ke-sama-an itu Ia dapat mengerjakan hal-hal yang berguna bagi kepentingan kita.
Sudahkah anda berterima kasih pada Yesus yang telah mengambil keputusan untuk menjadi sama seperti anda di dalam kemanusiaan anda? Segeralah berterima kasih pada Yesus.
Bagaimanakah cara pandang anda selama ini terhadap sesama manusia? Apakah anda termasuk orang yang suka membeda-bedakan nilai jati diri seseorang? Mari, jangan kecil hati, belum terlambat untuk mengubah cara pandang tersebut. Yesus telah menjadi Manusia, supaya di dalam diri setiap manusia kita bisa menemukan arti dari “diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa” Allah.
Tuhan memberkati.
Thursday, December 18, 2008
Natal: Mengapa Kita Masih Perlu Memikirkannya?
Kelahiran Yesus Kristus adalah peristiwa yang amat penting bagi hidup orang yang percaya kepada-Nya, karena melalui peristiwa tersebut kita melihat suatu bukti tentang betapa besarnya kasih Allah kepada dunia ini. Betapa tidak, melalui Natal kita melihat bagaimana Allah yang Mahakuasa rela untuk menjadi manusia demi menebus kita dari hukuman atas dosa-dosa yang kita lakukan.
Sungguh ajaib jika Allah begitu menghargai manusia sementara secara menyedihkan kita sendiri sebagai manusia sering kali merasa sulit untuk menghargai orang lain yang pada dasarnya adalah sesama kita manusia. Melalui Natal kita ditegur, diajari, diberi teladan dan bahkan diberi jalan untuk kembali merenungkan makna hidup kita sebagai manusia. Melalui Natal kita juga diingatkan akan eksistensi Allah yang berdaulat, Allah yang hidup dan terutama Allah yang menyelamatkan dan memelihara kehidupan kita.
Meskipun demikian, tidak semua orang di dunia ini melihat peristiwa tersebut dari sudut pandang yang sama. Tidak semua orang menghargai apa yang telah dilakukan Allah melalui peristiwa Natal ini. Tidak sedikit pula yang tidak mempercayai peristiwa kelahiran Yesus itu sebagai suatu peristiwa Ilahi yang bermakna penting bagi manusia. Untuk beberapa kelompok manusia, gagasan bahwa Allah menjadi manusia dan masuk ke dalam lintasan sejarah bukanlah sesuatu yang harus dipahami secara harafiah. Mereka menganggap peristiwa tersebut tidak lebih dari mitos belaka.
Rudolf Bultmann adalah satu di antara sekian banyak orang yang menganggap bahwa kelahiran Yesus adalah sebuah mitos. Dalam tulisan-tulisannya, Bultmann menyatakan bahwa di dalam Perjanjian Baru memang banyak terdapat mitos. Yang dimaksud Bultmann dengan mitos adalah upaya-upaya manusia untuk mengekpresikan keadaan “dunia yang lain” dengan dunia yang kita kenal sekarang ini.
Bagi orang seperti Bultmann dan juga orang-orang yang setuju dengan jalan pikirannya kisah-kisah di dalam Alkitab tidak perlu dilihat sebagai sesuatu yang berasal dari Allah. Tulisan-tulisan para nabi dan rasul tidak perlu dianggap sebagai suatu tulisan yang memiliki semacam otoritas ke-Ilahi-an karena pada dasarnya tulisan-tulisan semacam itu hanyalah suatu ekspresi budaya yang tumbuh dan berkembang karena adanya pengaruh budaya lain. Sebagai contoh, Bultmann menganggap bahwa tradisi Alkitab Kristen amat dipengaruhi oleh tradisi Helenisme dan Gnostisisme, jadi menurutnya tulisan dalam Alkitab bukanlah suatu pekerjaan Ilahi untuk manusia.
Pemikiran semacam Bultmann ini bukanlah sesuatu yang terjadi dan hanya berlaku di masa lalu melainkan juga masih hidup di tengah-tengah masyarakat pada masa sekarang ini. Bentuknya memang berbeda namun semangat yang ditularkannya tetap sama yaitu menyangkali otoritas Ilahi dalam apapun yang dikatakan oleh Alkitab, termasuk dalam hal ini kelahiran Yesus Kristus.
Lalu ada lagi kelompok lain yang kelihatan lebih baik dari kelompok pertama, yaitu mereka yang mengakui bahwa Yesus memang pernah lahir di dalam sejarah namun mereka menyangkali arti penting kelahiran Yesus tersebut. Biasanya kelompok semacam ini adalah kelompok yang terdiri dari para penganut paham rasionalisme, yaitu suatu paham yang menempatkan rasio manusia sebagai otoritas tertinggi dari kebenaran. Menurut mereka rasio atau daya pikir manusia adalah penentu bagi segala sesuatu yang disebut benar atau salah.
Bagi kaum rasionalis ini, apa yang Yesus katakan atau sampaikan bukanlah sesuatu yang baru. Yesus hanya mengutarakan sesuatu yang pada dasarnya memang benar secara logika sehingga tanpa Yesus pun umat manusia dapat menemukan kebenaran itu melalui pertolongan rasio mereka.
Dengan pola pikir atau cara pandang seperti ini tentu amat sulit untuk mengharapkan kaum rasionalis ini dapat menghargai kelahiran Yesus Kristus sebagai sesuatu yang bermakna amat penting bagi umat manusia. Orang-orang semacam ini mungkin mengakui kelahiran Yesus di dalam sejarah, mereka bahkan bisa turut bersuka cita di dalam kegembiraan Natal akan tetapi mereka tidak akan pernah melihat bahwa Natal mempunyai makna yang begitu vital bagi manusia.
Sebagai orang Kristen kita tentu merasa heran mengapa orang-orang seperti yang dicontohkan dalam paragraf-paragraf tadi bisa begitu mengecilkan arti kelahiran Yesus Kristus sementara kita sendiri melihat betapa Natal adalah suatu peristiwa yang begitu luarbiasa bukan?
Tetapi benarkah kita sendiri pun telah melihat Natal sebagai suatu peristiwa yang begitu luarbiasa? Atau adakah rutinitas perayaan Natal dan pengaruh gegap gempita lingkungan dunia kita telah turut menggeser makna Natal itu sendiri? Sejauh mana kita mengenal kisah Natal sebagaimana Alkitab menceritakannya? Sejauh mana kita telah belajar dari detil-detil cerita yang luarbiasa itu? Ataukah karena sudah terlampau sering mendengar khotbah tentang Natal, sensitivitas kita terhadap cerita itu sudah jauh berkurang? Salah satu keterbatasan kita dalam mencerna suatu peristiwa yang sudah terlalu biasa adalah; kita mulai kehilangan makna dari peristiwa tersebut.
Jika kita secara sepintas melihat kondisi sekarang ini, kita tahu bahwa tidak sedikit golongan masyarakat yang ikut bergembira di hari Natal. Bagi kita orang Kristen, fakta ini mungkin cukup menggembirakan karena kita dapat menduga bahwa pengenalan manusia akan Yesus Kristus sudah semakin luas diterima. Akan tetapi jika kita melihat lebih jauh lagi maka kita mungkin baru menyadari bahwa Natal yang dipahami oleh masyarakat pada umumnya berbeda dengan pesan Natal yang sesungguhnya.
Berbicara tentang Natal, terus terang saja, bagi saya susah-susah gampang. Saya ingin merasa gampang dan ingin membuatnya menjadi gampang karena setidaknya sebagai orang Kristen kita pada umumnya sudah cukup sering mendengar kisah yang agung ini.
Akan tetapi ingin bilang gampang juga ternyata tidak mudah, mengapa? Karena pada dasarnya kita melihat di dunia ini bagaimana Natal (yang kita pikir gampang itu) ternyata telah begitu sering berada di dalam arah yang menyimpang. Misalnya, materialisasi dan sekularisasi seperti yang amat marak dibicarakan sebagai ancaman bagi Natal yang sesungguhnya. Bagi kita orang Kristen yang (barangkali) sudah dewasa, ancaman ini (sekali lagi “barangkali”) tidak terlalu menakutkan, akan tetapi bagaimana dengan generasi penerus kita? Jika pesan Natal (yang terkesan itu-itu saja) tidak kita kumandangkan dengan lantang, tegas dan sesuai ajaran Alkitab maka boleh dipastikan bahwa semangat dan ajaran Natal (sebagaimana Alkitab ingin kita melihatnya) akan luntur di abad-abad mendatang dalam diri anak cucu kita. Kita tentu tidak ingin ini terjadi bukan?
Alasan lain untuk tidak mengatakan Natal sebagai sesuatu yang gampang adalah ketika menyadari keterbatasan dan kegagalan kita (yang begitu seringnya) dalam mengaplikasikan apa yang telah kita renungkan di dalam Natal. Coba saja anda renungkan satu pertanyaan pribadi ini? Sudah berapa Natal berlalu dalam hidup anda sebagai orang percaya? Adakah dengan bertambahnya tahun anda bisa dengan yakin mengakui bahwa anda sudah semakin maju di dalam iman, kasih dan karakter anda? Bukankah kita sama-sama sering merasa maju hari ini, lalu mundur lagi minggu depan, kita merasa berhasil bulan ini lalu blunder lagi bulan depan, lalu maju lagi dan maju lagi dan kemudian mundur lagi dan mundur lagi demikian seterusnya. Jika kemajuan kita sebagai orang Kristen ditentukan semata-mata dari seberapa lama kita telah menjadi orang Kristen atau seberapa banyak usia kita maka kita boleh memastikan bahwa orang-orang yang sudah lama menjadi orang Kristen dan sudah lebih banyak umurnya pasti memiliki kemajuan yang lebih pesat di dalam kerohanian, tetapi apa benar begitu? Nyatanya tidak. Yang masih muda bergumul dengan masalah kerohanian, yang sudah senior usianya pun bergumul dengan persoalan yang sama. Artinya, sampai kapanpun pada dasarnya kita, siapapun orangnya, tetap masih membutuhkan pesan Natal bagi hidup kita. Jadi, tentu adalah penting untuk sekali lagi merenungkan Natal dengan berbagai persoalan serta ajaran yang ada di dalamnya.
Semoga melalui tulisan singkat ini, kita kembali diingatkan bahwa Natal pada dasarnya adalah moment atau suatu batu loncatan untuk mengenal Pribadi Yesus sebagaimana Alkitab bercerita tentang Dia. Berbicara tentang Natal, bukanlah berhenti pada perayaan Natal itu sendiri (yang mana biasanya sebagai panitia Natal kita menjadi amat sibuk sekali dengan segala tetek-bengek seremonial dan rapat-rapat yang melelahkan). Berbicara tentang Natal juga bukanlah berpusat pada Sinterklas atau model pohon terang apa yang akan kita pasang tahun ini. Berbicara tentang Natal, tidak lain dan tidak bukan adalah berbicara tentang Yesus Kristus dan signifikansi (arti penting) kelahiran-Nya bagi umat manusia serta bagaimana respon kita terhadap Dia. Selamat Natal, kiranya Tuhan memberkati kita semua.
Catatan:
Tulisan ini diambil dari buku yang saya tulis pada waktu Natal tahun 2007, berjudul “Christmas Salad”¬ - Bab satu: Pendahuluan.
Yang Bernama Yesus… Dimohon Berdiri
Pendahuluan: Sebuah pesan dari dalam kubur
Berita penemuan kubur yang disebut-sebut sebagai kubur Yesus telah menuai cukup banyak kontroversi di dunia beberapa waktu yang lalu. Memang persoalan tersebut seakan agak tenggelam akhir-akhir ini, namun bukan berarti keragu-raguan terhadap kebangkitan Yesus telah dapat diselesaikan begitu saja. Tidak kurang seorang James Cameron, sutradara film yang pernah sukses luar biasa melalui Titanic, menyiapkan sebuah naskah film tentang DNA Yesus yang ditemukan dalam sebuah kubur.
Kalangan Kristen tentu menolak berita tersebut, sementara orang-orang yang sejak semula menentang Kristus, dengan senang hati merangkul berita semacam ini.
Melengkapi sepak terjang Cameron, sebuah saluran televisi yang terkenal dengan kajian ilmiah seperti Discovery Channel, turut mengetengahkan temuan spektakuler dari sebuah kubur berisi tulang belulang yang berasal dari sekitar 2000 tahun yang lalu. Acara yang membahas tentang The Talpiot Tomb itu, yaitu nama kubur yang diduga adalah kubur Yesus beserta keluarganya, ditayangkan secara resmi pada tanggal 4 Maret 2007, setahun yang lalu.
Jika kemasan yang kemungkinan akan dibawa oleh Cameron dalam bentuk film, dapat lebih mudah ditepis dan dimasukkan dalam kategori fiksi (terlepas dari perbuatan tidak etis yang dilakukannya pada masyarakat Kristen yang biasanya lebih memilih diam daripada protes keras). Maka kemasan ilmiah yang diusung oleh Discovery Channel mau tidak mau memberi semacam legitimasi bahwa temuan ini adalah suatu kebenaran. Konsekuensinya, iman Kristen yang selama ini meyakini bahwa Yesus sudah bangkit dari kematian tidak lain dan tidak bukan adalah kebohongan belaka.
Bagaimana kita harus mencerna dan memahami situasi seperti ini?
Ada banyak Yesus, namun hanya satu yang bergelar Kristus
Ada banyak Yesus, tapi hanya satu Kristus. Itu sebabnya siapa saja dapat mengatakan bahwa mereka telah menemukan tulang-tulang di dalam kubur yang diberi nama Yesus, tanpa harus merujuk pada Yesus Kristus yang diberitakan oleh Alkitab. Tulisan ini akan menjelaskan bahwa nama Yesus adalah nama yang umum, namun Kristus adalah gelar yang unik. Sehingga di dalam sejarah hanya satu orang yang pantas disebut sebagai Yesus Kristus, yaitu Dia yang telah lahir di Betlehem, mati di Yerusalem, dikuburkan dalam sebuah kubur batu yang masih baru dan bangkit pada hari ketiga.
Ada banyak Yesus…
Bagi orang Kristen sejak abad pertama sampai dengan abad ini, nama Yesus adalah nama yang sungguh berbeda. Nama itu begitu agung, suci serta tiada bandingnya. Dan memang demikianlah adanya bagi kita yang percaya kepada-Nya.
Akan tetapi harus diakui bahwa pada abad pertama, khususnya sebelum pekerjaan Yesus Kristus menjadi nyata bagi orang-orang di zaman itu, nama Yesus adalah nama yang cukup umum dipakai.
Ambillah satu contoh dari perkataan Pilatus misalnya, yaitu ketika dihadapan orang banyak ia bertanya: "Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?" (Matius 27:17b)
Kita sering mendengar nama Barabas bukan? Saya bahkan cukup sering mendengar orang keliru menyebut Barabas dengan Barnabas (Teman sepelayanan rasul Paulus, perhatikan tambahan huruf “n” di tengah). Tapi saya kira sungguh jarang orang mengingat bahwa nama depan Barabas adalah Yesus. Jika berpikir tentang seseorang penjahat yang dibebaskan demi agar Yesus Kristus bisa disalibkan, maka nama Barabas-lah yang pertama-tama muncul di pikiran kita. Ia jarang kita sebut atau ingat dengan nama lengkapnya, Yesus Barabas. Tidak mengherankan juga mengapa hal itu terjadi, karena pada faktanya tidak semua versi Alkitab mencantumkan nama Yesus Barabas. LAI mencantumkan nama itu, tetapi versi-versi lain Alkitab seperti NIV (New International Version) atau KJV (King James Version) tidak mencantumkannya. Ada sedikit polemik memang tentang sebutan Yesus di depan nama Barabas. Ada yang mengatakan bahwa itu memang nama depan Barabas seperti yang tertera pada teks aslinya, tetapi ada pula yang mengatakan bahwa sebutan itu sengaja ditambahkan oleh penafsir atau penyalin yang terkemudian dengan tujuan untuk mengkontraskan Barabas, penjahat yang dibebaskan dari hukuman, dengan Yesus, Orang Benar yang dijatuhi hukuman demi orang lain.
Harus saya akui, ketika membaca teks Alkitab dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Yunani, saya tidak bisa menghindar dari nuansa keraguan terhadap ada atau tidaknya kata Yesus di depan nama Barabas. Dalam teks Yunani tersebut ada tertulis demikian: Ti,na qe,lete avpolu,sw u`mi/n( ÎVIhsou/n to.nÐ Barabba/n h' VIhsou/n to.n lego,menon Cristo,nÈ
Para pakar manuskrip kuno memberi rating {C} untuk penggalan teks dari Matius 27 ini dan sesuai konsensus di kalangan ahli-ahli manuskrip, khususnya manuskrip Perjanjian Baru, rating {C} ini menunjukkan adanya suatu tingkat keragu-raguan yang diakibatkan sedikitnya kuantitas manuskrip lain yang mencantumkan istilah tersebut. Akan tetapi, meskipun tidak banyak manuskrip kuno yang mencantumkannya, istilah tersebut muncul pada beberapa manuskrip Alkitab (codex) yang cukup penting seperti versi Synaiticum Syria (yang disimpan di museum Paris) serta tulisan bapa gereja abad ke-2 bernama Origen. Origen hidup antara tahun 185 sampai 254 M sehingga tulisannya dapat dianggap memiliki keterandalan yang tinggi karena masih cukup dekat dengan peristiwa yang berkenaan dengan Yesus Kristus.
Namun sekali lagi, fakta yang tidak dapat dipungkiri adalah terlepas dari apakah Barabas memiliki nama depan Yesus atau tidak, nama Yesus memang bukan nama yang semata-mata dipakai oleh Juruselamat kita pada waktu Ia tinggal di dunia kita sebagai Manusia. Bahkan di kota Pafos yang terletak di pulau Siprus, ada seorang tukang sihir dan nabi palsu dari keturunan Yahudi yang bernama Bar-Yesus (Kisah Rasul 13:6). Berdasarkan tinjauan terhadap naskah aslinya, tidak ada keraguan mengenai nama ini dibandingkan dengan Yesus Barabas. Dalam teks aslinya jelas tertulis Barihsou/
Lagipula, fakta bahwa Yesus seringkali dikaitkan dengan sebutan tambahan seperti “orang Nazaret” atau bahkan “Kristus” cukup menjelaskan pada kita bahwa penulis Injil tidak ingin pembacanya keliru dengan Yesus-Yesus lain yang hidup pada masa itu.
Beberapa arkeolog Yahudi yang hidup sezaman dengan kita, juga mengakui bahwa nama Yesus adalah nama yang umum. Sebut saja Amos Kloner, dari Israeli Antiquities Authority, bersama rekannya sesama arkeolog bernama Joe Zias, mereka berdua ikut meneliti ke Talpiot, tempat makam itu berada. Namun mereka tidak setuju bahwa makam itu adalah makam yang pernah ditempati oleh Yesus Kristus dua ribu tahun yang lalu. Kloner mengatakan: “the names marked on the coffins were very common at the time.” (Amos Kloner, The Lost Tomb of Jesus: A Critical Look). Sementara Zias berpendapat: "hyped up film which is intellectually and scientifically dishonest."
Pendapat serupa dikemukakan juga oleh William Dever, seorang arkeolog lain yang telah hampir lima puluh tahun menghabiskan hidupnya dalam berbagai ekskavasi di padang gurun Timur Tengah. Kepada Washington Post, Dever mengatakan: “I just think it's a shame the way this story is being hyped and manipulated.” Lalu ia melanjutkan dengan kalimat yang serupa dengan Kloner: "All of the names [contained in the tomb] are common." (William Dever, Washington Post, 28 Feb 2007)
Kata “Yesus” merupakan sebuah nama, persis seperti setiap kita yang diberi nama oleh orang tua kita ketika dilahirkan.
Nama Yesus adalah bentuk Yunani (Ίησους atau Latin: Iēsous) dari nama Yosua atau Yeshua dalam bahasa Ibrani (ישוע). Sedangkan nama Yeshua sendiri adalah bentuk pendek dari Yehoshua (Ibrani: יהושע) yang artinya “YHWH is salvation” (TUHAN adalah Penyelamat). Oleh karena itu, arti nama Yesus pun dikonotasikan sebagai “TUHAN adalah Penyelamat.”
Sekalipun pada awal abad pertama nama itu pada faktanya umum dipakai oleh orang Yahudi, namun seperti yang dilaporkan oleh I.H. Marshal PhD, seorang Professor ahli Exegesis Perjanjian Baru dari Universitas Aberdeen, nama itu lenyap dari peredaran setelah abad pertama. Marshal berpendapat bahwa hal ini terjadi karena bagi orang Kristen, nama itu sudah bukan menjadi nama yang biasa lagi, melainkan nama Juruselamat mereka yang amat mereka hormati. Tidak ada orang Kristen yang berani memakai nama itu untuk nama anak-anak mereka. Sedangkan bagi orang Yahudi, juga menurut Marshal, mereka tidak mau memakai nama Yesus karena mereka merasa (maaf) “jijik” dengan nama itu karena nama tersebut mengingatkan mereka pada seseorang yang telah mempermalukan diri mereka serta menjadi batu sandungan bagi keyakinan iman mereka.
Pada masa kini, kita bisa mendengar bahwa nama Yesus sering pula dipakai oleh banyak orang di berbagai belahan dunia, khususnya oleh orang Kristen (atau yang merasa dirinya Kristen atau yang entah mengapa tertarik dengan budaya Kristen, walau mungkin tidak benar-benar paham, apa artinya menjadi Kristen. Atau bahkan pula oleh mereka yang sengaja ingin menyamakan dirinya dengan Yesus Kristus). Sebut saja beberapa contoh seperti Jesus Jones seorang pentolan grup band aliran keras. Atau José Luis de Jesús Miranda, seorang pendiri lembaga pelayanan Creciendo en Gracia yang mengaku bahwa hidup dan ajarannya lebih tinggi dari hidup dan ajaran Yesus Orang Nazaret.
… namun hanya satu yang bergelar Kristus
Berbeda dengan kata “Yesus” yang merupakan sebuah nama, “Kristus” bukanlah sebuah nama, melainkan sebuah gelar. Misalnya Presiden Susilo B.Yudhoyono, Susilo BY adalah namanya, namun Presiden adalah gelar yang sedang dijabatnya. Gelar bisa diperoleh karena jabatan pekerjaan seperti Presiden atau Pendeta atau Guru Injil atau Majelis atau Direktur. Tapi bisa juga diperoleh melalui pendidikan seperti PhD, Dr, SH, SE dan lain-lain. Anda bisa diangkat atau dinobatkan menjadi seorang pendeta oleh jemaat atau sinode, demi menjalankan suatu fungsi tertentu atau karena telah mencapai prestasi tertentu. Tetapi untuk menyandang gelar PhD, anda harus buktikan terlebih dulu ketrampilan akademis yang memadai. Tidak ada orang yang diangkat menjadi PhD tanpa proses pendidikan yang sesuai untuk seorang PhD.
Sebagai perbandingan, Kristus adalah juga gelar yang bukan diperoleh karena pendidikan melainkan suatu gelar yang diberikan sebagai jabatan pekerjaan atau lebih tepatnya, peranan. Lalu apa bedanya gelar Kristus dengan gelar-gelar lain yang diperoleh melalui suatu penobatan?
Bedanya adalah bahwa di dunia ini ada banyak orang yang dinobatkan atau diangkat menjadi Presiden, ada banyak Pendeta, Direktur, Guru Besar yang diangkat atau dinobatkan demi fungsi-fungsi tertentu dan tujuan-tujuan tertentu, tetapi di dunia ini hanya ada satu Orang yang boleh dan mampu menyandang gelar sebagai Kristus, yaitu Yesus orang Nazaret. Hanya Yesus itulah, yang telah mati bagi manusia, yang bisa menyandang gelar sebagai Kristus. Hanya Yesus itu yang benar-benar pantas menyandang gelar ini. Tidak ada satu manusia pun yang mampu dan pantas menyandang gelar tersebut. Bedanya lagi, gelar Kristus bukan semata-mata diberikan oleh manusia, melainkan diberikan langsung oleh Allah.
Istilah “Kristus” adalah juga istilah dari bahasa Yunani christós yang artinya “Dia Yang Diurapi.” Dalam zaman Perjanjian Lama, pengurapan diberikan baik kepada benda maupun kepada manusia untuk memegang jabatan tertentu. Dengan dilakukan pengurapan, berarti benda atau orang itu ditandai kesuciannya atau kekhususannya bagi Allah. Karena kita sedang berbicara tentang Yesus, maka kita langsung saja membahas tentang pengurapan yang diberikan pada manusia dan mengesampingkan uraian tentang pengurapan terhadap benda-benda
Dalam Penjanjian Lama, hanya ada tiga jabatan yang diberikan pengurapan dari Allah yaitu, raja (Hak 9:8; 2 Sam2:4), imam besar (Kel 28:41) dan nabi (1 Raj 19:16). Dan dalam Perjanjian Lama tidak pernah disebutkan bahwa ketiga gelar itu disandang sekaligus oleh satu orang manusia. Daud yang dikenal sebagai raja Israel yang paling agung pun, tidak pernah menyandang gelar itu sekaligus dalam hidupnya.
Hanya Yesus orang Nazaret-lah yang menyandang ketiga gelar itu sekaligus. Yesus adalah Raja artinya Ia memegang kuasa untuk memerintah. Yesus adalah Imam, artinya Ia menjadi wakil manusia untuk datang kepada Allah dengan membawa korban keselamatan. Kitab Ibrani mengatakan bahwa tidak seperti imam lainnya yang membawa persembahan setiap tahun dengan darah binatang, Yesus adalah Imam Agung yang sebagai wakil umat manusia datang menghadap Allah dengan mempersembahkan darah-Nya sendiri. Yesus adalah Nabi, karena Ia adalah Pribadi yang datang untuk menyampaikan segala amanat, pesan dan perintah dari Allah untuk manusia.
Seorang pendeta Buddha yang sangat dihormati bernama Daisetz Teitaro Suzuki mengajarkan bahwa setiap orang yang mencapai suatu tingkat kerohanian yang tinggi, mempunyai kemungkinan untuk menjadi Kristus. Suzuki mengajarkan: “The doctrine of causes and effects awakens in man the inner power which makes him to be himself and transforms him into his own creator with responsibilities and obligations. In other words, the doctrine of causes and effects liberates man from the ruling power of person God, dogmas and theology. Once liberated, man would understand that he has to be responsible for all the consequences of his own psychological states and volitional actions and should not look for any salvation outside himself.”
Sekalipun Suzuki beberapa kali mengutip Alkitab, namun dapat dipastikan bahwa Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa kita dapat menjadi mesias (kristus) bagi diri sendiri. Alkitab tidak pernah menyebutkan satu orang pun di dunia ini sebagai Kristus kecuali Yesus orang Nazaret. Dan orang Kristen, sebagaimanapun salehnya, tidak mungkin kelak akan menjadi Kristus. Kristus adalah gelar yang unik, satu-satunya di dalam sejarah.
Akhir kata
Nama Yesus akan terus bergema di dunia ini, entah melalui mulut orang-orang yang percaya kepada-Nya, maupun dari mulut orang yang membenci-Nya. Tidak ada satu manusia yang begitu dicintai sekaligus begitu dibenci dan sering disalahpahami selain Dia. Coba saja anda renungkan, ada berapa banyakkah buku atau film yang membicarakan hal-hal yang buruk tentang Siddharta Gautama atau bahkan nabi Muhammad? Pernahkah ada yang berani (atau paling tidak sekedar meluangkan waktu) untuk mengolok-olok kedatangan Batara Vishnu dalam wujud berbagai manusia (entah itu Sri Rama, Sri Kresna, Arjuna Sasrabahu atau entah apalagi) sebagai sesuatu pernyataan iman yang primitif, tidak berdasar logika, tidak historis dan oleh karenanya tidak layak untuk dipercaya? Tidak ada. Semua orang menerima begitu saja hal-hal demikian tanpa repot-repot mempertentangkannya.
Tetapi Yesus? Media massa seperti berlomba-lomba untuk mengemukakan cerita-cerita yang bertujuan untuk mendiskreditkan Dia. Cerita-cerita tentang Dia, dicap sebagai pernyataan iman yang primitif (oleh karena itu tidak terlalu cocok untuk zaman teknologi maju seperti sekarang ini), perbuatan-perbuatan Dia terus dikecam sebagai perbuatan yang anti-logika (oleh karena itu tidak perlu ditanggapi secara serius), riwayat hidup-Nya terus dipertanyakan tentang ke-absah-an historisnya (oleh karena itu siapa saja bebas membuat cerita-cerita aneh tentang Dia) dan masih banyak lagi cara-cara lainnya. Ada pula orang yang kehabisan akal untuk mencerca Yesus begitu rupa sampai memakai kemasan ilmiah semacam: “Telah Ditemukan DNA Yesus Kristus.” Tetapi, bagaimana mungkin mereka dapat memastikan bahwa DNA yang ditemukan itu adalah DNA Yesus Kristus jika kita bahkan tidak pernah memiliki DNA asli-Nya sebagai pembanding? Terus terang, bagi saya Jurassic Park saja masih terasa lebih masuk akal daripada berita tersebut.
Yesus Kristus adalah Manusia, tetapi Dia bukan Manusia sembarangan, sebab Dia adalah Allah yang menjadi Manusia. Memang ada banyak orang bernama Yesus, tetapi Yesus yang disembah oleh orang-orang yang percaya pada ajaran Alkitab adalah Yesus yang bergelar Kristus. Dan tidak ada satu orang di dunia ini yang memiliki gelar Kristus, selain Yesus Orang Nazaret itu. Kehadiran-Nya pun bukan suatu kebetulan di dalam sejarah. Ada ribuan tahun sejarah manusia yang harus terjadi sebagai pendahuluan untuk memperkenalkan sosok Kristus ini. Siapakah tokoh sejarah, baik dulu maupun sekarang yang bisa menandingi Dia?
Ketika pada saat ini kita mengaku percaya kepada Dia, kita tidak diharapkan untuk memiliki suatu pengakuan yang kosong atau iman yang buta. Alkitab meminta kita untuk memeriksa iman kita dan menyandarkan iman itu pada objek (sasaran) yang jelas dan pasti, yaitu Yesus Kristus. Alkitab sama sekali tidak menghargai iman yang buta, sebab dengan hati kita percaya namun dengan akal budi kita mengerti. Anselmus mengatakan fides quarens intellectum yang artinya biarlah iman memimpin pengertian kita. Iman memimpin, tetapi pengertian berjalan dibelakangnya untuk memastikan agar iman tidak salah arah. Namun pengertian pun tidak selamanya dapat mencapai finalisasi, oleh karena itu iman yang harus memimpinnya. Suatu kerjasama yang sangat indah antara iman dan pengertian. Hilangkan yang satu, maka yang lain tidak akan berfungsi dengan semestinya.
Melalui peristiwa Natal, Yesus memang ingin menyamakan diri-Nya dengan kita, tetapi bukan berarti bahwa kita dapat menyamakan diri kita dengan Dia, karena secara kualitatif tidak ada orang yang sama dengan Dia.
Semoga melalui tulisan singkat ini, keyakinan kita pada Yesus Kristus dapat semakin diperkaya. Tuhan memberkati.
Sunday, November 16, 2008
Pada mulanya adalah Firman (Yoh 1:1)
Oleh: Novizar Tirta
Kalau saya diminta untuk melukiskan Allah sebagaimana saya mengenal Dia, saya mungkin akan bicarakan tentang kebaikan-Nya. Betapa tidak, selama ini saya telah belajar untuk mengenal diri saya sendiri dan dalam pencarian itu saya menemukan bahwa pada dasarnya saya bukanlah orang yang layak di hadapan Allah, tetapi demi semua kekurangan itu, saya juga menemukan bahwa Tuhan telah bersedia untuk menebus saya, bahkan tanpa saya memintanya terlebih dahulu. Ini sesuatu yang, bukan tidak masuk akal melainkan, melampaui akal.
Saya membayangkan Yohanes, salah seorang murid Yesus, yang ketika tulisan tersebut ia buat sudah dalam usia yang tua. Apa yang Yohanes pikirkan jika ia harus melukiskan tentang Allah yang ia kenal secara pribadi dan bahkan pernah ia sentuh dengan tangannya sendiri? Kata-kata apa yang akan ia pakai untuk memulai ceritanya?
Dari Yohanes 1:1 kita tahu bahwa ia memilih untuk memulai dari Firman atau Logos.
Kita bisa menduga-duga atau membuat berbagai tafsiran dengan berbagai metode penggalian yang baik, tetapi satu hal yang menarik perhatian saya adalah bagaimana Yohanes memulai titik berangkat pemikirannya, ia memulai dari “kata-kata Allah.”
Firman atau Logos, dalam bahasa sederhana dapat dimengerti sebagai “kata-kata.”
Apa itu kata-kata? Mengapa seseorang berkata-kata?
Kata-kata adalah sarana kita dalam mengekpresikan pikiran kita. Melalui kata-kata, orang lain dapat mengenal kita lebih baik. Jika kita bertemu dengan seseorang, tanggapan kita bisa bermacam-macam. Kita mungkin senang melihat orang itu karena kecantikannya atau ketampanannya. Atau mungkin juga kita kurang suka melihatnya karena ia memiliki sosok yang mirip teroris misalnya.
Akan tetapi semua itu bisa berubah sama sekali ketika kita mulai bicara dengan dia. Orang yang semula kita senangi karena cantik, mungkin kemudian akan mulai tidak kita sukai karena caranya berkata-kata yang sombong dan cenderung merendahkan orang lain misalnya. Sebaliknya, seseorang yang semula kita duga seorang teroris, mungkin saja ternyata adalah seorang misionaris yang melayani orang-orang miskin di Afganistan. Siapa yang tahu? Tetapi kata-kata bisa menjelaskan hal itu untuk kita.
Kata-kata memberi pengenalan yang lebih baik akan seseorang (tentu saja, sejauh kata-kata itu berisi kebenaran). Bagi diri kita sendiri, kata-kata juga berguna untuk menjelaskan apa yang kita maksud, apa yang kita inginkan, apa yang kita rencanakan, apa yang menjadi keluhan kita, apa yang menjadi hasrat terdalam dari diri kita dan lain sebagainya.
Allah adalah sosok yang tidak terlihat, paling tidak sejak saya lahir sampai detik tulisan ini saya buat, saya belum pernah melihat Dia secara pribadi sebagaimana saya melihat teman-teman atau melihat istri saya sendiri. Saya belum pernah melewatkan suatu waktu dimana saya bisa mengobrol santai sambil menghirup kopi dengan Pribadi yang disebut Allah itu. Saya belum pernah menjabat tangan-Nya atau membiarkan Dia menepuk pundak saya tanda persahabatan atau kepedulian-Nya. Tetapi mengapa berani-beraninya saya melewatkan sisa hidup saya mempercayai Dia yang belum pernah saya lihat itu?
Tindakan mempercayai kata-kata seseorang sama sekali bukanlah suatu tindakan yang tolol. Percaya atau tidak. Kita senantiasa mendengar orang berkata-kata dan sadar atau tidak sadar kita senantiasa memutuskan untuk mempercayai atau tidak mempercayai kata-kata tersebut. Kita mendengar Obama berkata-kata, dan kita memutuskan untuk mempercayai dia atau tidak. Kita mendengar SBY berkata-kata dan kita penasaran apakah ia sedang bersungguh-sungguh ataukah sekedar sedang berpolitik. Kita mendengar tetangga kita berkata-kata tentang pencuri yang masuk ke rumahnya dan kita menjadi takut. Kita mendengar bahwa resesi sedang melanda dunia dan kita menjadi resah. Kita mendengar tarif angkot naik dan kita terpaksa harus membayar sesuai tarif baru tersebut, jika tidak mau dimaki-maki oleh si supir angkot tentunya. Kita mendengar tentang makanan yang terkontaminasi, dan kita menjadi selalu curiga. Demikianlah kita terus dibombardir oleh kata-kata demi kata-kata dan suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar kita terus membuat keputusan terhadap kata-kata itu. It’s a kind of natural thing.
Dan semakin kita mengenal orang yang berkata-kata, semakin besarlah kepercayaan kita pada apa yang dikatakannya. Sesederhana itu.
Mempercayai Obama atau SBY atau tetangga yang kecurian adalah satu hal, mempercayai kata-kata Allah adalah hal yang berbeda. Mengapa? Karena orang-orang yang saya sebutkan sebelumnya adalah orang-orang seperti saya juga, sama-sama manusia, tetapi Allah adalah Pribadi yang mencipta saya dan suatu hari nanti jika nafas terakhir saya sudah dihembuskan, saya tidak perlu menghadap SBY, ataupun Obama. Tetapi suatu hal yang pasti adalah bahwa saya harus berhadapan dengan Allah secara pribadi. Adalah sesuatu yang penting jika saya mendengar kata-kata-Nya ketimbang mengabaikan hal itu begitu saja bukan?
Dari fakta yang diurai secara singkat ini, kita dapat merenung sejenak, sejauh apa kita telah menaruh perhatian pada kata-kata Allah? Ataukah perkataan orang lain jauh lebih penting bagi kita ketimbang kata-kata Allah sendiri? Atau mungkin kita tidak pernah mau mendengar siapapun, karena terlalu sibuk mendengarkan pikiran-pikiran kita sendiri? Kita biasanya lebih suka mendengar orang yang mengatakan hal-hal yang enak di telinga kita, itu sebabnya kita cenderung tidak suka pada kata-kata Allah karena kadang-kadang Ia mengatakan hal-hal yang kurang enak di dengar. Tetapi bagaimana jika apa yang Ia katakan adalah benar? Haruskah kita mengabaikan-Nya juga? Atau pernahkah kita setidaknya sudi untuk meluangkan waktu dan memikirkan kata-kata-Nya sebelum memutuskan untuk mempercayai atau melupakan saja hal itu?
Mengapa jauh lebih mudah menerima kata-kata orang lain yang tidak kita kenal dan motivasinya amat meragukan ketimbang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Pencipta kita? Ataukah kita merasa bahwa apa yang dikatakan oleh orang-orang disekitar hidup kita jauh lebih relevan karena terasa lebih riil ketimbang suara Allah yang sering diperdebatkan oleh ahli-ahli agama?
Sejujurnya, kemungkinan atau probabilita ke arah itu memang ada, tetapi itu adalah risiko dari sebuah keputusan. Dan sebenarnya, mendengar suara apapun di dunia ini, pasti ada risiko dan konsekuensinya. Tetapi mengapa kita berani ambil risiko untuk mendengar suara orang lain namun senantiasa acuh dan ragu ketika diperhadapkan pada pilihan untuk mendengar Dia?
Yohanes telah melakukan hal yang benar, ia memulai dari kata-kata Allah, karena memang itulah yang paling penting. Sepatutnya kita juga memandang demikian. Karena kata-kata Allah adalah cerminan dari sebagian pikiran-Nya, maka sungguh amat penting jika kita memperhatikan apa yang dipikirkan Allah bagi kita. Dalam Alkitab, kata-kata Allah bukan saja terbentuk dari bunyi-bunyian, bukan pula semata-mata terbentuk dalam wujud tulisan. Dalam Alkitab, kata-kata Allah terwujud dalam daging dan darah, nama-Nya Yesus. Oleh karena itu, kita harus mendengar apa yang dikatakan oleh Yesus yang satu ini. Tuhan memberkati.
Tuesday, October 14, 2008
Memahami pekerjaan Kristus
(Memahami pekerjaan Kristus dari balik aksi The Dark Knight- bagian 2)
Oleh: Novizar Tirta
Dalam tulisan terdahulu kita sudah melihat bahwa adalah wajar untuk berpikir jika sebagian manusia akan masuk ke dalam sorga dan sebagian lagi akan pergi ke neraka.
Kita sudah membahas bahwa baik secara teologis, maupun secara filosofis, gagasan seperti ini bukanlah sekedar isapan jempol belaka, melainkan wajar adanya. Sehingga jika ada paham-paham yang menentang hal tersebut, seperti ateis misalnya, kita sudah tahu bahwa justru gagasan itulah yang tidak benar.
Persoalan yang belum dibicarakan dalam tulisan terdahulu adalah “Bagaimana Alkitab mengajarkan tentang siapa yang akan pergi ke sorga dan siapa yang tidak?”
Logika kita mengatakan bahwa yang baik akan pergi ke sorga sedangkan yang jahat akan pergi ke neraka. Semua orang pasti berpikir demikian, dan memang demikianlah yang selayaknya terjadi. Baik aspek cognitif maupun aspek nurani dari diri kita pasti akan setuju pada konsep ini.
Tapi masalahnya, tidak ada satu pun dari kita yang baik di hadapan Allah. Kita mungkin merasa lebih baik dari para pembom
Beberapa orang berpikir bahwa kita dapat mengantisipasi persoalan dosa dengan cara berusaha berbuat baik sebanyak-banyaknya. Dengan harapan, suatu saat ketika kita diperhadapkan kepada Allah, maka perbuatan baik kita akan terlihat lebih banyak daripada perbuatan dosa, sehingga barangkali saja Tuhan akhirnya bersedia menerima kita di sorga-Nya.
Namun cara berpikir semacam ini sama saja dengan logika cerita di bawah ini:
Suatu kali anda bertamu ke rumah saya. Kebetulan hari itu adalah hari libur Sincia, dimana hidangan yang umum tersedia adalah kue lapis legit. Kita tahu bahwa kue lapis legit membutuhkan banyak sekali telur untuk membuatnya. Jujur saja, saya tidak tahu persis berapa telur yang harus dipakai dalam kenyataannya, tapi katakan saja 10 telur untuk memudahkan. Dan kebetulan saya punya 10 telur di kulkas saya. Ketika saya menyiapkan telur-telur untuk membuat kue lapis legit itu, saya menemukan bahwa 1 dari 10 telur itu ternyata busuk. Tetapi karena sudah biasa membuat kue lapis legit dengan 10 telur, saya tidak perduli dengan yang busuk itu, saya campurkan saja semuanya ke dalam adonan kue lapis legit tersebut dan saya panggang dengan hati-hati. Ketika besoknya anda datang, saya cerita tentang kue lapis legit yang terbuat dari 1 telur busuk dan 9 telur baik tersebut dan saya berharap anda mau mencicipinya. Apakah anda kira-kira mau memakan kue tersebut?
Atau cerita lainnya yang mirip dengan itu:
Suatu kali anda kepingin sekali makan cendol. Dan beruntungnya, tukang cendol langganan anda lewat di depan rumah. Tanpa pikir dua kali, anda langsung panggil tukang cendol itu lalu meminta dia untuk membuatkan satu gelas untuk anda. Sementara anda melihat dia menyiapkan cendol itu, tiba-tiba sesuatu menetes dari hidung si tukang cendol dan jatuh persis ke dalam gelas yang akan anda minum. Yang jatuh menetes (silahkan anda tebak sendiri apa yang biasanya menetes dari hidung) ke dalam gelas, volumenya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan keseluruhan cendol di dalam gelas. Dan karena berpikir demikian, si tukang cendol dengan santainya memberi saja gelas itu untuk anda minum. Kira-kira apakah anda bersedia meminum cendol dengan bonus tetesan hidung tadi?
Oke, saya tahu, contohnya memang agak absurd, tapi saya harap anda tidak missed the point. Inti dari dua kisah yang saya ceritakan itu adalah KITA TIDAK DAPAT MENERIMA CAMPURAN KEJIJIKAN DAN KEBAIKAN SEKALIGUS. Tuhan juga tidak. Malah, tuntutan Tuhan pada kita adalah kesempurnaan. Yesus pernah berkata: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Matius 5:48). Kita jauh dari sempurna, itu sudah pasti, oleh karena itu kita telah gagal meraih target yang ditetapkan oleh Allah.
Ilustrasi di atas sudah menunjukkan pada kita bahwa upaya untuk membersihkan diri dengan kekuatan sendiri akan sia-sia saja. Kita ini sudah merupakan keberadaan campuran antara kejijikan dan kebaikan. Lagipula, kebaikan yang kita pikir kita sedang miliki itupun masih amat perlu dipertanyakan. Siapakah di antara kita yang yakin bahwa di dalam kebaikan yang kita lakukan itu, sungguh-sungguh telah dilakukan dengan motivasi yang murni dan bersih? Bukankah tidak jarang kita berbuat baik demi sesuatu yang lain? Agar dipandang baik misalnya? Atau agar dipromosi oleh bos misalnya? Atau demi memikat hati seorang yang sedang kita taksir barangkali? Jika kita berbuat baik demi sesuatu yang lain, dapatkah itu dikatakan sebagai kebaikan? Orang berpikir, kita perlu berbuat baik agar diterima disorga. Tetapi coba renungkan, jika kita berbuat baik agar mendapat sesuatu (sorga misalnya), lalu bagaimana secara intrinsik kebaikan itu dapat dikatakan sebagai kebaikan?? Bukankah itu adalah kebaikan yang “ada maunya?”
Saya mengaku, pergumulan dengan motivasi adalah sesuatu yang amat berat bagi saya. Saya sudah mengenal gereja sejak kecil, dan sejak kecil itu pula saya sudah mulai ikut pelayanan di gereja. Tetapi saya menganggap bahwa semua itu hanyalah aktivitas agamawi belaka, mengapa? Karena saya melakukannya tanpa mengenal siapa yang sedang saya layani. Baru sejak tahun 1996, saya mulai mengenal siapa Yesus yang sebenarnya dan sejak tahun 1996 itulah saya mulai melayani dengan pengertian yang benar. Mulai tahun 2000, aktivitas pelayanan saya mulai lebih terorganisir dari pada sebelumnya, saya mulai ikut kuliah Teologi dan saya begitu aktif melayani di mana-mana. Di mata manusia tidak diragukan lagi, saya adalah atau saya kelihatan seperti pelayan Tuhan. Tapi izinkan saya mengaku, di dalam doa saya pribadi pada Tuhan, dengan sedih saya harus katakan pada Tuhan bahwa saya masih ragu dengan diri saya sendiri, apakah semua ini saya lakukan untuk melayani Tuhan ataukah untuk melayani ego saya sendiri? Apakah saya memang sedang melayani Tuhan ataukah ini semua tidak lebih dari aktivitas agamawi belaka? Manakah yang sesungguhnya sedang saya kejar, perkenanan dari Tuhan ataukah pujian dari manusia? Jika saya berusaha mengatakan sesuatu yang sebenarnya sesuai ajaran Alkitab dengan risiko tidak disukai oleh orang banyak, masihkah saya ingin mengatakannya? Sungguh, saya sering bergumul dengan diri sendiri mengenai hal-hal tersebut. Dan fakta bahwa sampai hari ini Tuhan masih bersedia memakai saya untuk melayani Dia, semata-mata menunjukkan betapa baiknya Tuhan itu, sama sekali bukan menunjukkan betapa baiknya saya.
Alkitab pun, jika kita sungguh-sungguh membacanya, tidak mengajarkan bahwa kita mampu melakukan sesuatu untuk menyelesaikan persoalan dosa kita tersebut.
Jadi, bagaimana sekarang?
Di satu sisi:
Allah adalah Pribadi yang Mahakudus. Sorga pun adalah ruang yang Mahakudus.
Di sisi lain:
Saya dan anda, jauh dari status Mahakudus, we’re not even close.
Kita adalah orang berdosa. Bukan saja bahwa kita pernah melakukan dosa, tetapi saya juga menemukan bahwa ada semacam penyakit di dalam jiwa kita yang tidak kunjung mau pergi. Dari Alkitab saya tahu, bahwa itu adalah dosa.
Dosa bukan sekedar harus melakukan A, tapi yang dikerjakan adalah B.
Dosa memiliki karakteristik yang lebih dalam dan jauh lebih rumit dari itu.
Dalam pengertian sederhana, dosa dapat dipahami sebagai kecenderungan untuk senantiasa sengaja melawan ketetapan Allah. Bahkan ketika kita pikir kita sedang memeranginya, kita justru mendapati diri sedang berkubang di dalamnya. Rumit bukan? (Lain waktu kita akan bicarakan hal ini secara lebih mendalam.)
Pergumulan dengan dosa yang saya alami, di samping yang telah saya akui tadi, misalnya adalah saya tidak ingin iri hati, tetapi saya mesti jujur akui, bahwa saya pun sering jatuh dalam dosa iri hati. Saya ingin mengasihi, tetapi faktanya saya justru lebih mudah membenci daripada mengasihi. Saya ingin menjadi pribadi yang peduli pada orang lain, tetapi waktu-waktu berlalu sambil saya habiskan untuk memikirkan kepentingan diri sendiri. Belum lagi pergumulan melawan penyakit lainnya seperti lust, anger, greed, pride dan lain sebagainya. Sungguh, hidup adalah peperangan yang tidak ada habis-habisnya. (Namun di sisi lain saya pikir, jika kita tidak merasa bahwa hidup ini penuh pergumulan semacam itu, kita perlu hati-hati, mungkin kita memang sudah terlanjur nyaman di dalam berbagai penyakit tersebut.)
Saya adalah campuran dari dosa dan kebaikan manusiawi yang jauh dari sempurna. Bagaimana mungkin saya berharap dapat hidup satu lingkungan dengan Allah? Kesimpulan dari observasi ini adalah bahwa secara kualitas inheren, saya sama sekali sungguh-sungguh tidak patut masuk sorga.
Rasul Paulus sering disebut-sebut sebagai orang terbesar nomor 2 dalam kekristenan. (Orang nomor 1-nya tentu adalah Yesus sendiri.) Tetapi dengan jujur Paulus mengaku:
“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? (Roma 7:18-24)
Jika ini pengakuan seorang Jeffrey Dahmer atau Ted Bundy (anda sudah pernah dengar bukan nama dua orang serial killer dari Amerika ini?) atau Ryan (serial killer versi
Kita tidak memiliki kebenaran diri itu. Perbuatan baik kita, yang dulu dan sekarang, tidak dapat begitu saja menghapus dosa yang pernah kita perbuat. Tidak ada jalan yang tersedia jika kita melihat ke dalam diri kita sendiri maupun ke dalam dunia ini.
Jalan satu-satunya adalah… mari kita lihat sendiri beberapa pengakuan yang dibuat oleh tokoh-tokoh penting di bawah ini:
Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yoh 14:6)
Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Kisah 4:12)
Ucapan pertama adalah ucapan Yesus sendiri. Ucapan kedua adalah ucapan Petrus dan Yohanes. Jadi, jalan satu-satunya adalah percaya pada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat anda pribadi.
Masih ingat film Dark Knight yang pernah kita bahas dulu?
Batman tidak bersalah, tetapi ia bersedia menanggung kesalahan orang lain, yaitu Harvey Dent, agar
Bandingkan dengan yang satu ini:
Demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia. (Ibrani 9:28)
Jadi,
Yesus mati di kayu salib bukan karena Ia bodoh.
Yesus mati di kayu salib bukan karena Ia kurang waras
Yesus mati di kayu salib bukan karena Ia terlalu lemah untuk melarikan diri.
Yesus mati di kayu salib bukan karena Ia sedang tidak ada pekerjaan lain.
Yesus mati di kayu salib bukan karena Ia kalah.
Yesus mati di kayu salib bukan karena Ia ingin terkenal.
Yesus mati di kayu salib bukan karena Ia ingin terlihat baik.
Yesus mati di kayu salib bukan karena Ia pecinta penderitaan
Yesus mati di kayu salib bukan karena Ia tipe pria lembek yang memang suka mengalah tanpa alasan
Tetapi,.
Yesus mati di kayu salib UNTUK SEBUAH ALASAN, yaitu demi membayar hutang dosa anda dan saya.
Kematian Yesus di kayu salib adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan kita. Hukuman dosa yang sepatutnya kita terima, telah ditimpakan pada Yesus, agar kita sendiri dapat dibenarkan di hadapan Allah.
Jadi, walaupun saya sadar bahwa saya ini jauh dari sempurna, saya tetap berani percaya bahwa suatu hari nanti saya akan tinggal bersama-sama dengan Yesus.
Saya percaya seperti ini bukan karena saya yakin bahwa diri saya sudah sempurna. Tidak.
Saya percaya seperti ini bukan karena saya merasa sudah cukup berbuat baik. Tidak sama sekali. Sejujurnya, semakin saya mengenal diri saya sendiri dan semakin saya mengenal siapakah Yesus. Saya semakin sadar betapa memprihatinkannya diri saya, sungguh tak terperikan
Tetapi saya berani percaya seperti ini, karena Yesus telah mengatakannya terlebih dahulu. Yesus berkata:
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:16)
Keyakinan saya semakin diperkuat lagi oleh Yohanes murid Yesus yang berkata:
Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal. (1 Yoh 5:13)
Karena saya mengaku secara terbuka bahwa saya, Novizar, percaya pada (trust in) Yesus Kristus, maka adalah wajar jika saya percaya pada janji keselamatan-Nya tersebut. Jika saya tidak percaya pada hal tersebut, hal itu sama saja dengan mengatakan bahwa Yesus pada dasarnya adalah pembohong. Seorang laki-laki Yahudi yang suka berjanji namun tidak akan menepati janji tersebut. Bagi saya, Yesus tidak begitu, apa yang Ia janjikan pada saya akan Ia laksanakan untuk saya. I trust Him!
Catatan:
Istilah “percaya” dalam bahasa asli Alkitab, sebenarnya lebih tepat jika diterjemahkan menjadi “trust” dalam bahasa Inggris, atau “mempercayakan” dalam bahasa Indonesia.
Sebagai perbandingan, begini:
Saya bisa percaya bahwa pangeran Diponegoro pernah ada.
Tetapi bagaimana mungkin saya mempercayakan diri saya pada pangeran Diponegoro itu?
Demikian pula, banyak orang mengaku percaya bahwa Yesus ada, Dia guru, tokoh yang agung, orang suci dan lain sebagainya.
Tetapi persoalannya adalah, apakah orang-orang ini mau mempercayakan dirinya pada Yesus?
Di dalam istilah “trust” dan “mempercayakan” ada suatu relasi yang dibangun antara orang yang percaya dengan orang yang dipercayai. Jadi, jelas sekali bahwa istilah “percaya” di dalam Alkitab bukan mengacu pada suatu keyakinan yang pasif dan buta.
Kita akan pergi ke sorga bukan dengan kebenaran diri kita sendiri, tetapi dengan kebenaran Yesus Kristus yang diberikan kepada kita sebagai anugerah. Allah memandang kita sempurna, bukan karena siapa diri kita, Allah melihat kita sempurna karena ketika kita percaya pada Yesus, kita dipersatukan dengan-Nya. Di dalam persekutuan dengan Yesus itulah, saya dipandang sempurna. Saya menerima apa yang sebenarnya tidak patut saya miliki, inilah yang disebut dengan kasih karunia itu atau grace dalam bahasa Inggris. (Dari kata ini pulalah kita mengenal istilah “grasi” bagi para tahanan di penjara)
Mari kita kembali lagi pada perbandingan ini:
Secara inheren, Harvey Dent telah berbuat salah. Tetapi masyarakat menganggapnya sebagai tokoh yang baik. Mengapa? Karena kesalahannya telah ditanggung oleh Batman, the Dark Knight.
Secara inheren, Novizar bukan orang yang baik di hadapan Allah. Tetapi suatu hari nanti ia akan diizinkan untuk tinggal bersama Yesus. Mengapa? Karena segala dosa-dosanya telah ditanggung oleh Yesus, the Christ.
Sebagai penutup, cobalah renungkan bahwa Yesus pernah berkata secara gamblang begini: Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia TELAH berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. (Yoh 3:18)
Saya memahami, bahwa banyak pertanyaan dan mungkin pula keberatan yang muncul dari apa yang saya katakan ini. (Sebagai contoh: kita mungkin ingin bertanya: mengapa aspek percaya kelihatan begitu penting hingga dapat menentukan akan berakhir di manakah kita dalam keabadian nanti?) Tetapi apa yang saya tuliskan ini jujur saja bukan gagasan saya sendiri, melainkan gagasan Alkitab. Saya hanya mencoba menyampaikannya dalam bahasa kita sehari-hari di
Namun bagaimanapun, harapan saya adalah anda semakin mengenal siapa Yesus Kristus itu dan apa yang telah dikerjakan-Nya bagi hidup manusia. Harapan saya, segala kesalahpahaman orang tentang Yesus, perlahan-lahan akan terkikis dan tergantikan oleh kekaguman akan Dia. Dan harapan saya juga, anda pada akhirnya nanti mau ikut trust-in pada-Nya.
Jemaat sekalian, kiranya Tuhan Yesus memberkati kita semua dengan pengenalan akan Dia. Amin.











